Minggu, 19 Januari 2014

Kerinduan Itu....

Kalau saja dia tahu, aku menangisinya hampir setiap malam. Meskipun aku tahu dia tak pernah melakukan hal yang sama untukku. Aku merindukannya Ya Rabb.. Rindu pada makhluk yang kau ciptakan. Apakah aku salah atas semua ini? Aku tahu mungkin aku akan membuatmu cemburu akan hal ini, tapi aku mohon ya Rabb.. sadarkan dia, agar dia tahu seberapa banyak pengorbanan ini untuknya..

Sebingkai Kisah di Akhir Semester

Ini semua masih terasa seperti mimpi dalam hidupku. Rasanya baru kemarin aku merengek pada Ibu dan Bapak agar mengijinkanku kuliah di salah satu kampus yang luar biasa di kota Bogor. Kampus yang menjadi mimpiku sejak 3 tahun yang lalu. Disaat semua orang menginginkan kampus yang masyur seperti IPB, ITB, UI, dan lain sebagainya, aku hanya menginginkan AKA Bogor sebagai kampus impianku. Mungkin orang hanya berfikir ini mimpi yang terlalu biasa, atau mungkin ini hanya cita-cita yang terlalu sederhana. Tapi entah darimana keyakinan itu datang. Entah darimana keberanian itu muncul. Yang jelas aku selalu merasa yakin, Bogor akan memberikan janji-janji masa depan yang nyata dalam hidupku.

Masih teringat jelas dalam memori, ucapan temanku beberapa bulan lalu “Kamu jangan masuk AKA Bogor, apaan disana mah lulusan nya sama aja kayak lulusan SMK” atau mungkin ucapan saudara-saudara ku setelahnya “Udah jangan ngambil D3 mending S1 Kimia Murni biar gampang kalau mau jadi Dosen”.

Tidak peduli seberapa buruk penilaian orang. Tidak peduli seberapa kuat larangan keluarga dan orang tua, aku melawan semua prasangka, melawan semua opini-opini, tanpa ikut SBMPTN ataupun SNMPTN, aku bulatkan tekad aku kuatkan hatiku. AKA Bogor tujuanku.

Tanggal 2 Juli 2013 tepat kepindahanku. Awalnya sempat muncul penyesalan yang mendalam dalam hatiku. Kenapa aku tidak mendengar ucapan orang tuaku? Kenapa aku tidak menghiraukan nasihat-nasihat mereka yang sekuat tenaga terus melarangku untuk sekolah di Luar Kota. Tapi apa daya, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Ini pilihanku, apapun konsekuensinya aku sendirilah yang harus menanggungnya.

Akhirnya aku sadar ini bukan saatnya aku menangis menyesali pilihan yang aku ambil. Ini bukan waktunya terpuruk atas hal yang sudah terjadi. Aku masih beruntung bisa sekolah disini. Coba lihat jutaan orang di luar sana berusaha sekuat tenaga untuk bisa menjadi seorang mahasiswa. Coba lihat jutaan pula rakyat Indonesia yang harus terus berjuang untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Lantas kenapa aku harus mengeluh? Lantas kenapa aku harus terpuruk???

Ya Allah lagi-lagi kau ingatkan aku betapa pentingnya mensyukuri setiap karunia-Mu.

Kuliah itu bukan masalah dimana kampus yang terbaik. Tapi ini semua tentang bagaimana engkau memberikan yang terbaik.

Bogor menjadi saksi bisu kehijrahanku. Menjadi kota yang menghidupkanku dari dunia tanpa arah. Iya disini, aku menghijrahkan diriku. Tidak hanya raga dan fisiku saja yang aku hijrahkan. Tapi pola pikir dan akhlak ku juga aku hijrahkan ke Kota ini. Kota Hujan yang selalu mengaliri hidayah-hidayah kehidupan dalam dunia kecilku.

Disini aku bisa melanjutkan sekolahku. Disini aku bisa membuka semua pola pikir yang dulu selalu terbelenggu oleh sifat kekanak-kanakanku. Disini aku belajar menjadi Ibu rumah tangga untuk diriku sendiri, dan disini aku belajar tentang sisi lain dari kehidupan.

Masih teringat jelas saat aku mendengar Ibuku menelpon sambil menangis di ujung sana. Masih teringat dengan sangat jelas, saat aku merengek meminta kepulanganku di percepat ke Bandung. Masih teringat dengan teramat sangat jelas saat aku mulai mengeluh pada Ibu. AKU TIDAK SANGGUP MENJADI ANAK KOST.

Ini hanya tentang sebuah problematika yang terlalu klasik. Ini hanya sebuah alasan konyol yang seharusnya tidak pernah terucap dari mulut seorang Mahasiswa. Ini bukan tentang sebuah kesanggupan tapi ini tentang sebuah perjuangan. Ingat ”inna ma’al ‘usri yusra” (sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan) itu yang dijanjikan Allah kepada ummatnya. Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Maka dengan segala problematika klasikmu hari ini, masih pantaskah engkau untuk menyerah dan berputus asa dengan segala persoalan dunia ini?

Tanpa terasa enam bulan terlewatkan sudah. Banyak sekali perubahan-perubahan yang aku alami selama 6 bulan terakhir menjadi Mahasiswa AKA Bogor. Kini tidak ada lagi Risda yang manja, yang selalu diantar-jemput untuk sekolah. Tidak ada lagi suapan-suapan dari Ibu saat aku sarapan pagi. Atau air panas yang selalu tersedia sebelum aku mandi.

Enam bulan disini membuatku tersadar, betapa sempurnanya segala rencana Allah untukku, betapa istimewanya keluarga yang Allah titipkan padaku, dan betapa indahnya ukhuwah antara kami.

Ya Allah saat aku merasa tidak sanggup, Engkau berikan aku kekuatan untuk menghadapi cobaan. Saat aku merasa terpuruk, Engkau ulurkan tangan-Mu melalui mereka kepadaku. Disaat aku takut, Engkau yakinkan aku dengan kekuasaan dan janji-janji-Mu. Sungguh alangkah bodohnya aku saat ini jika aku masih saja tidak mau mensyukuri setiap karunia-Mu.

Disaat Bandung menjadi Kota yang menyakitkan. Disaat mimpiku harus terbenam seiring dengan bergantinya siang dan malam. Disaat harapan mulai terbawa oleh hujan, maka titik terang itu perlahan mulai menampakkan wujudnya, dan disini di Bogor aku menemukan titik terang itu..

Satu keyakinan yang selalu aku tanamkan pada diriku saat Bogor menjadi pilihan. AKU YAKIN BOGOR BISA MENJADIKAN AKU ORANG YANG LEBIH BAIK.

Aku luruskan niatku, aku azamkan diriku kepada-Mu. Aku bangun kembali puzzle-puzzle kehidupanku diatas keimanan kepada-Mu. Maka ketahuilah sesungguhnya inilah diriku yang Baru.

Menjadi salah satu pengurus Komisi B Puskomda se-PRIBAR, Koor Angkatan (akhwat) DKM (Dewan Kemakmuran Mesjid), Duta Inspirasi Kota Bogor, Staff Aspirasi Angkatan, Bendahara LDK (div.Multimedia dan Kehumasan), Sie Rohani Kelas, Lembaga Dakwah Kelas dan Alhamdulillah Allah masih mempercayaiku dengan semua amanat-amanat dakwah ini.

 Ya allah saat aku benar-benar merasakan kehadiran-Mu dalam hidupku. Saat aku terasa begitu dekat denganMu. Saat sudah tak ada lagi jarak antara aku denganMu. Kau tutupi aib-aib ku, Kau leburkan kelemahanku. Kau kuatkan aku, dan kau jadikan aku seolah-olah aku insan yang baik dihadapan mereka! Padahal mungkin aku tidak lebih baik dari apa yang mereka ketahui.

Memang banyak hal yang sudah berubah dalam hidupku. Tapi bukan berarti aku benar-benar bisa terbebas dari hal-hal gila selama menjadi Mahasiswa. Aku mulai kehabisan kata untuk menceritakan setiap tingkah-tingkah konyol ku selama 6 bulan terakhir ini.

Dari mulai sering kabur kalau Sansan (ketua kelas) ngasih pengumuman, makan di kelas saat guru paling killer lagi ngajar, tidur di kelas, nilai 0 saat quis, main SOS pas lagi kuliah, engga pernah nyatet pas pelajaran tertentu sampai ga belajar sama sekali pas ujian, di debat sama 4 dosen praktikum sekaligus, di hukum di suruh berdiri di depan kelas, di datengin kaka tingkat pas ujian gara-gara terlalu ribut di kosan.

Aahh terlalu banyak hal-hal gila yang aku jalani selama menjadi mahasiswa. Ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri saat aku bisa melakukan kegilaan demi kegilaan itu. Rasanya aku benar-benar hidup, dan benar-benar menikmati hidup. Aku hanya ingin menjadi mahasiswa yang bebas. Dengan kebebasan yang bertanggung jawab tentunya.

Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Langgar saja semua sistem yang kau rasa perlu untuk kau langgar, asalkan jangan pernah kau langgar 2 aturan dalam kehidupan. Aturan Allah dan aturan kedua orang tuamu !

Disini allah berikan aku keluarga yang baru, keluarga yang sanggup menerima semua kelebihan dan kekuranganku. Keluarga yang tidak memaksaku untuk merubah apa yang ada dalam diriku. Keluarga di kosan, keluarga di kampus, keluarga di tempat liqo. Mereka adalah anugerah terindah dalam bingkai cerita kehidupanku.

Masih terkenang saat usiaku menginjak 18 tahun. Tiga kue kejutan datang menghampiri.

Kue pertama datang dari anak-anak kos tepat jam 12:00 yang rela sampai tidak tidur semalam suntuk hanya untuk memberikan kejutan kepadaku. Tidak puas hanya dengan sekotak kue, mereka menaburiku dengan krim dan tepung terigu. Alhasil aku harus mandi di tengah malam sambil menangis karena kedinginan dan kesal yang tidak tertahankan karena dibangunkan secara mendadak di tengah malam.

Esok paginya aku jalani rutinitas seperti biasa. Kuliah, syuro, kumpul organisasi dan lain sebagainya. Setelah sampai kostan baru saja aku selesai mandi dan shalat isya, tiba-tiba suara kegaduhan mulai muncul di depan kamar. Aku kira hanya teman-teman kostan ku saja yang iseng. Tapi setelah aku dengar mereka melantunkan doa’a rabithah yang selalu menjadi kebanggaan kami, aku sadar ini bukan kejutan dari tetanggaku. Setelah di buka teman-teman liqo ku telah siap dengan sekotak kue di hadapan. Rasa bahagia benar-benar tak terperi dalam hatiku. Sebelum pulang mereka memberiku sebuah titipan dari sahabat karibku, sebuah lagu yang harus aku dengarkan sebelum tidur. “cinta yg abadi~kang abay” itu nama sebuah file yg mereka berikan kepadaku.

Dimalam harinya aku menangis mendengarkannya. Ternyata itu bukan lagu kang abay yang aku pikirkan. Tapi sebuah musikalisasi puisi dari sahabat-sahabatku benar-benar menyentuh. Aku terisak mendengarkannya. Benar-benar musikalisasi yang membuatku mengharu biru.

Sampai tepat H+1 tanggal 12-12-2013. Sahabat-sahabatku sudah stand by di kamarku. Saat itu aku ada syuro sampai maghrib, dan mereka rela menungguku pulang untuk memberikan sepotong kue yang mengingatkanku akan jatah usiaku yang semakin berkurang. Saat aku membuka kamar, mereka sudah berkumpul di kamarku, lagi-lagi dengan sekotak kue. Alhamdulillah.. Mengganjilkan kue yang aku dapatkan di usiaku yang ke 18 tahun.

Ibu.. Bapak.. Jangan khawatir aku baik-baik saja dengan keluarga baruku disini.

Hari ini mungkin kau akan berfikir bahwa ini hanya sebuah kisah-kisah minimalis dalam cerita kehidupanku. Tapi aku yakin kelak kisah-kisah ini yang akan aku banggakan pada dunia. Mungkin aku tidak menyadarinya, tapi aku yakin dunia menyadarinya ..