Sebingkai Kisah di Akhir Semester
Ini semua
masih terasa seperti mimpi dalam hidupku. Rasanya baru kemarin aku merengek
pada Ibu dan Bapak agar mengijinkanku kuliah di salah satu kampus yang luar
biasa di kota Bogor. Kampus yang menjadi mimpiku sejak 3 tahun yang lalu.
Disaat semua orang menginginkan kampus yang masyur seperti IPB, ITB, UI, dan
lain sebagainya, aku hanya menginginkan AKA Bogor sebagai kampus impianku.
Mungkin orang hanya berfikir ini mimpi yang terlalu biasa, atau mungkin ini
hanya cita-cita yang terlalu sederhana. Tapi entah darimana keyakinan itu
datang. Entah darimana keberanian itu muncul. Yang jelas aku selalu merasa
yakin, Bogor akan memberikan janji-janji masa depan yang nyata dalam hidupku.
Masih
teringat jelas dalam memori, ucapan temanku beberapa bulan lalu “Kamu jangan
masuk AKA Bogor, apaan disana mah lulusan nya sama aja kayak lulusan SMK” atau
mungkin ucapan saudara-saudara ku setelahnya “Udah jangan ngambil D3 mending S1
Kimia Murni biar gampang kalau mau jadi Dosen”.
Tidak
peduli seberapa buruk penilaian orang. Tidak peduli seberapa kuat larangan
keluarga dan orang tua, aku melawan semua prasangka, melawan semua opini-opini,
tanpa ikut SBMPTN ataupun SNMPTN, aku bulatkan tekad aku kuatkan hatiku. AKA
Bogor tujuanku.
Tanggal 2
Juli 2013 tepat kepindahanku. Awalnya sempat muncul penyesalan yang mendalam
dalam hatiku. Kenapa aku tidak mendengar ucapan orang tuaku? Kenapa aku tidak
menghiraukan nasihat-nasihat mereka yang sekuat tenaga terus melarangku untuk
sekolah di Luar Kota. Tapi apa daya, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Ini
pilihanku, apapun konsekuensinya aku sendirilah yang harus menanggungnya.
Akhirnya
aku sadar ini bukan saatnya aku menangis menyesali pilihan yang aku ambil. Ini
bukan waktunya terpuruk atas hal yang sudah terjadi. Aku masih beruntung bisa
sekolah disini. Coba lihat jutaan orang di luar sana berusaha sekuat tenaga
untuk bisa menjadi seorang mahasiswa. Coba lihat jutaan pula rakyat Indonesia
yang harus terus berjuang untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Lantas kenapa aku
harus mengeluh? Lantas kenapa aku harus terpuruk???
Ya Allah lagi-lagi kau ingatkan aku
betapa pentingnya mensyukuri setiap karunia-Mu.
Kuliah itu
bukan masalah dimana kampus yang terbaik. Tapi ini semua tentang bagaimana
engkau memberikan yang terbaik.
Bogor
menjadi saksi bisu kehijrahanku. Menjadi kota yang menghidupkanku dari dunia
tanpa arah. Iya disini, aku menghijrahkan diriku. Tidak hanya raga dan fisiku
saja yang aku hijrahkan. Tapi pola pikir dan akhlak ku juga aku hijrahkan ke Kota
ini. Kota Hujan yang selalu mengaliri hidayah-hidayah kehidupan dalam dunia
kecilku.
Disini aku
bisa melanjutkan sekolahku. Disini aku bisa membuka semua pola pikir yang dulu
selalu terbelenggu oleh sifat kekanak-kanakanku. Disini aku belajar menjadi Ibu
rumah tangga untuk diriku sendiri, dan disini aku belajar tentang sisi lain
dari kehidupan.
Masih
teringat jelas saat aku mendengar Ibuku menelpon sambil menangis di ujung sana.
Masih teringat dengan sangat jelas, saat aku merengek meminta kepulanganku di
percepat ke Bandung. Masih teringat dengan teramat sangat jelas saat aku mulai
mengeluh pada Ibu. AKU TIDAK SANGGUP MENJADI ANAK KOST.
Ini hanya tentang sebuah problematika
yang terlalu klasik. Ini hanya sebuah alasan konyol yang seharusnya tidak pernah
terucap dari mulut seorang Mahasiswa. Ini bukan tentang sebuah kesanggupan tapi
ini tentang sebuah perjuangan. Ingat ”inna ma’al ‘usri yusra” (sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan) itu yang dijanjikan Allah kepada ummatnya.
Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Maka dengan segala problematika
klasikmu hari ini, masih pantaskah engkau untuk menyerah dan berputus asa
dengan segala persoalan dunia ini?
Tanpa
terasa enam bulan terlewatkan sudah. Banyak sekali perubahan-perubahan yang aku
alami selama 6 bulan terakhir menjadi Mahasiswa AKA Bogor. Kini tidak ada lagi
Risda yang manja, yang selalu diantar-jemput untuk sekolah. Tidak ada lagi
suapan-suapan dari Ibu saat aku sarapan pagi. Atau air panas yang selalu
tersedia sebelum aku mandi.
Enam bulan
disini membuatku tersadar, betapa sempurnanya segala rencana Allah untukku,
betapa istimewanya keluarga yang Allah titipkan padaku, dan betapa indahnya
ukhuwah antara kami.
Ya Allah saat aku merasa tidak
sanggup, Engkau berikan aku kekuatan untuk menghadapi cobaan. Saat aku merasa
terpuruk, Engkau ulurkan tangan-Mu melalui mereka kepadaku. Disaat aku takut,
Engkau yakinkan aku dengan kekuasaan dan janji-janji-Mu. Sungguh alangkah
bodohnya aku saat ini jika aku masih saja tidak mau mensyukuri setiap
karunia-Mu.
Disaat
Bandung menjadi Kota yang menyakitkan. Disaat mimpiku harus terbenam seiring
dengan bergantinya siang dan malam. Disaat harapan mulai terbawa oleh hujan,
maka titik terang itu perlahan mulai menampakkan wujudnya, dan disini di Bogor
aku menemukan titik terang itu..
Satu
keyakinan yang selalu aku tanamkan pada diriku saat Bogor menjadi pilihan. AKU
YAKIN BOGOR BISA MENJADIKAN AKU ORANG YANG LEBIH BAIK.
Aku luruskan niatku, aku azamkan
diriku kepada-Mu. Aku bangun kembali puzzle-puzzle kehidupanku diatas keimanan
kepada-Mu. Maka ketahuilah sesungguhnya inilah diriku yang Baru.
Menjadi
salah satu pengurus Komisi B Puskomda se-PRIBAR, Koor Angkatan (akhwat) DKM
(Dewan Kemakmuran Mesjid), Duta Inspirasi Kota Bogor, Staff Aspirasi Angkatan,
Bendahara LDK (div.Multimedia dan Kehumasan), Sie Rohani Kelas, Lembaga Dakwah
Kelas dan Alhamdulillah Allah masih mempercayaiku dengan semua amanat-amanat
dakwah ini.
Ya allah
saat aku benar-benar merasakan kehadiran-Mu dalam hidupku. Saat aku terasa begitu
dekat denganMu. Saat sudah tak ada lagi jarak antara aku denganMu. Kau tutupi
aib-aib ku, Kau leburkan kelemahanku. Kau kuatkan aku, dan kau jadikan aku
seolah-olah aku insan yang baik dihadapan mereka! Padahal mungkin aku tidak
lebih baik dari apa yang mereka ketahui.
Memang
banyak hal yang sudah berubah dalam hidupku. Tapi bukan berarti aku benar-benar
bisa terbebas dari hal-hal gila selama menjadi Mahasiswa. Aku mulai kehabisan
kata untuk menceritakan setiap tingkah-tingkah konyol ku selama 6 bulan terakhir
ini.
Dari mulai
sering kabur kalau Sansan (ketua kelas) ngasih pengumuman, makan di kelas saat
guru paling killer lagi ngajar, tidur di kelas, nilai 0 saat quis, main SOS pas
lagi kuliah, engga pernah nyatet pas pelajaran tertentu sampai ga belajar sama
sekali pas ujian, di debat sama 4 dosen praktikum sekaligus, di hukum di suruh
berdiri di depan kelas, di datengin kaka tingkat pas ujian gara-gara terlalu
ribut di kosan.
Aahh
terlalu banyak hal-hal gila yang aku jalani selama menjadi mahasiswa. Ada
kepuasan dan kebanggaan tersendiri saat aku bisa melakukan kegilaan demi
kegilaan itu. Rasanya aku benar-benar hidup, dan benar-benar menikmati hidup.
Aku hanya ingin menjadi mahasiswa yang bebas. Dengan kebebasan yang bertanggung
jawab tentunya.
Lakukan apapun yang ingin kau lakukan.
Langgar saja semua sistem yang kau rasa perlu untuk kau langgar, asalkan jangan
pernah kau langgar 2 aturan dalam kehidupan. Aturan Allah dan aturan kedua
orang tuamu !
Disini
allah berikan aku keluarga yang baru, keluarga yang sanggup menerima semua
kelebihan dan kekuranganku. Keluarga yang tidak memaksaku untuk merubah apa
yang ada dalam diriku. Keluarga di kosan, keluarga di kampus, keluarga di
tempat liqo. Mereka adalah anugerah terindah dalam bingkai cerita kehidupanku.
Masih
terkenang saat usiaku menginjak 18 tahun. Tiga kue kejutan datang menghampiri.
Kue
pertama datang dari anak-anak kos tepat jam 12:00 yang rela sampai tidak tidur
semalam suntuk hanya untuk memberikan kejutan kepadaku. Tidak puas hanya dengan
sekotak kue, mereka menaburiku dengan krim dan tepung terigu. Alhasil aku harus
mandi di tengah malam sambil menangis karena kedinginan dan kesal yang tidak
tertahankan karena dibangunkan secara mendadak di tengah malam.
Esok
paginya aku jalani rutinitas seperti biasa. Kuliah, syuro, kumpul organisasi
dan lain sebagainya. Setelah sampai kostan baru saja aku selesai mandi dan
shalat isya, tiba-tiba suara kegaduhan mulai muncul di depan kamar. Aku kira
hanya teman-teman kostan ku saja yang iseng. Tapi setelah aku dengar mereka
melantunkan doa’a rabithah yang selalu menjadi kebanggaan kami, aku sadar ini
bukan kejutan dari tetanggaku. Setelah di buka teman-teman liqo ku telah siap
dengan sekotak kue di hadapan. Rasa bahagia benar-benar tak terperi dalam
hatiku. Sebelum pulang mereka memberiku sebuah titipan dari sahabat karibku,
sebuah lagu yang harus aku dengarkan sebelum tidur. “cinta yg abadi~kang abay”
itu nama sebuah file yg mereka berikan kepadaku.
Dimalam
harinya aku menangis mendengarkannya. Ternyata itu bukan lagu kang abay yang
aku pikirkan. Tapi sebuah musikalisasi puisi dari sahabat-sahabatku benar-benar
menyentuh. Aku terisak mendengarkannya. Benar-benar musikalisasi yang membuatku
mengharu biru.
Sampai
tepat H+1 tanggal 12-12-2013. Sahabat-sahabatku sudah stand by di kamarku. Saat
itu aku ada syuro sampai maghrib, dan mereka rela menungguku pulang untuk
memberikan sepotong kue yang mengingatkanku akan jatah usiaku yang semakin
berkurang. Saat aku membuka kamar, mereka sudah berkumpul di kamarku, lagi-lagi
dengan sekotak kue. Alhamdulillah.. Mengganjilkan kue yang aku dapatkan di
usiaku yang ke 18 tahun.
Ibu.. Bapak.. Jangan khawatir aku
baik-baik saja dengan keluarga baruku disini.
Hari ini
mungkin kau akan berfikir bahwa ini hanya sebuah kisah-kisah minimalis dalam
cerita kehidupanku. Tapi aku yakin kelak kisah-kisah ini yang akan aku
banggakan pada dunia. Mungkin aku tidak menyadarinya, tapi aku yakin dunia
menyadarinya ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar